Indonesia memiliki salah satu proyek gas alam terbesar di dunia, yakni Blok Masela di Maluku. Nilai investasinya diperkirakan mencapai US$20,9 miliar atau sekitar Rp340 triliun. Namun, meski ditemukan sejak akhir 1990-an, proyek tersebut baru benar-benar memasuki tahap pembangunan setelah hampir tiga dekade.
Perjalanan panjang Blok Masela pun kembali menjadi sorotan setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan groundbreaking proyek LNG Abadi Masela.
Blok Masela bukanlah proyek yang baru muncul dalam beberapa tahun terakhir.
Kontrak pengelolaan wilayah kerja tersebut pertama kali ditandatangani pada November 1998, saat Indonesia masih dipimpin Presiden B.J. Habibie.
Sejak saat itu, proyek ini beberapa kali mengalami perubahan rencana dan target pengembangan sehingga belum juga memasuki tahap produksi meski telah berganti beberapa pemerintahan.
Salah satu perubahan terbesar terjadi pada 2017.
Awalnya, fasilitas pengolahan gas direncanakan dibangun di tengah laut (offshore). Namun pemerintah memutuskan mengubah konsep tersebut menjadi fasilitas di darat (onshore).
Perubahan itu dilakukan agar manfaat ekonomi yang diperoleh Indonesia lebih besar, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga pengembangan industri di dalam negeri.
Namun, keputusan tersebut membuat desain proyek harus disusun ulang sehingga proses pengembangannya menjadi lebih panjang.
Tantangan tidak berhenti sampai di situ.
Pada 2023, perusahaan energi Shell memutuskan melepas kepemilikannya di proyek Blok Masela. Kondisi tersebut membuat pemerintah bersama para mitra harus kembali menyusun struktur kerja sama agar proyek tetap dapat dilanjutkan.
Di sisi lain, proyek ini juga memiliki tingkat kesulitan teknis yang tinggi karena pengeboran dilakukan di laut dalam dengan kedalaman sekitar 800 meter di bawah Laut Arafura.
Setelah resmi memasuki tahap pembangunan, pemerintah menargetkan Blok Masela mulai berproduksi pada periode 2029 hingga 2030.
Jika beroperasi sesuai rencana, proyek LNG Abadi Masela diperkirakan mampu memproduksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, memasok kebutuhan gas dalam negeri, membuka ribuan lapangan kerja, serta menjadi salah satu proyek energi terbesar di Indonesia.
Proyek ini juga dirancang menggunakan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk menangkap dan menyimpan emisi karbon sebagai bagian dari pengembangan energi yang lebih berkelanjutan.
Saat meresmikan groundbreaking, Presiden Prabowo Subianto mengatakan masyarakat Indonesia telah menunggu realisasi proyek Blok Masela selama hampir tiga dekade.
Ia berharap pembangunan dapat berjalan sesuai jadwal sehingga proyek strategis tersebut tidak lagi mengalami penundaan dan manfaatnya segera dirasakan oleh masyarakat maupun perekonomian nasional.
Meski demikian, tahap groundbreaking bukan berarti produksi gas akan langsung dimulai. Proyek ini masih harus melewati proses konstruksi dan pengembangan sebelum akhirnya beroperasi secara penuh pada akhir dekade ini.
Sumber
• CNBC Indonesia — Prabowo: Rakyat Sudah Menunggu Proyek LNG Abadi Masela Maluku 3 Dekade (16 Juli 2026).
• Bisnis.com — Prabowo Resmikan Groundbreaking LNG Abadi Masela Senilai US$20,9 Miliar (16 Juli 2026).
• CNN Indonesia — Prabowo Bakal Resmikan Groundbreaking PSN Blok Masela Hari Ini (16 Juli 2026).
• Kompas.com — Besok, Prabowo Akan Resmikan Groundbreaking Proyek Blok Masela (15 Juli 2026).
Indonesia Punya "Harta Karun" Rp340 Triliun. Tapi Hampir 30 Tahun Cuma Didiamin. Kok Bisa?